Senin, 29 April 2013

Ada Stimulus (Guru Membimbing) Maka Ada Respon (Siswa Belajar)

Proses belajar dari kacamata ahli behaviorisme adalah suatu interaksi yang baik antara stimulus dari lingkungan dengan respon yang timbul dari diri siswa (berupa aktivitas belajar). Hasil akhir dari proses belajar seharusnya adalah berupa perilaku yang nyata, bukan hanya dalam mental.

Jika anjing Pavlof saja dapat mengalami pembiasaan (pengkondisian), apalagi pada diri siswa. Melalui proses  pengkondisian yang positif dan konsisten, sekolah tentunya dapat mengarahkan sebagian besar siswanya untuk berperilaku baik. Karakter yang terwujud dalam perilaku sehari-hari yang baik akan menjadi jaminan bahwa generasi kita ke dapan dapat berbicara banyak dalam kancah internasional.

Terdapat banyak aspek eksternal yang berpengaruh terhadap diri siswa di sekolah. Teman-teman, struktur sekolah, suasana kelas, kebersihan, peralatan dan banyak hal lainnya adalah contoh dari sekian banyak stimulus yang mestinya diperhatikan untuk kesuksesan proses KBM. Namun diantara semua itu, aspek guru merupakan stimulus yang paling besar pengaruhnya. Bagaimana semangat, kreativitas, ketekunan dan kesabaran guru dalam mengajar akan menentukan proses pengkondisian siswa dalam belajar.

Sayangnya masih banyak guru yang kurang menyadari posisi sentral dirinya. Mereka masih sibuk menyalahkan kurangnya sarana, buruknya kurikulum, orang tua yang tidak mendukung, ekonomi masyarakat dan lain sebagainya. Seandainya kesadaran akan posisi sentral itu dimiliki, maka keterbatasan dari aspek-aspek lain pasti (saya sangat yakin) akan teratasi. Sejarah dan kehidupan kita saat ini membuktikan bahwa setiap aspek manusia jauh lebih penting dari aspek-aspek yang lain.

Jadi, mulailah persiapkan diri kita untuk menjadi layak bagi posisi penting tersebut.

Kasus untuk Dipikirkan:
Dari sekian banyak kondisi dalam diri guru yang mempengaruhi kesuksesannya dalam mengajar, menurut kalian kondisi apa yang paling penting dan substansial?

Minggu, 28 April 2013

Dapatkan Ilmu Kembali Dilahirkan?

Abad tujuh belas dunia dihebohkan oleh karya Copernicus yang menghancurkan keyakinan gereja selama ribuan tahun tentang bumi sebagai pusat alam semesta. Waktu itu juga diyakini banyak orang sebagai tonggak dunia modern, yaitu zaman dimana ilmu (sains) telah lahir. Kepercayaan manusia akan pengetahuan rasional dan ilmiah mengalahkan imaji dan pengetahuan mistik, bahkan bisa jadi juga filsafat.



Saat ini kita tinggal menikmati bagaimana sains dan teknologi memudahkan berbagai sisi kehidupan masyarakat. Semua jadi serba mudah dan enak. Berbagai barang dan bahan pemuas kebutuhan dan keinginan dapat kita peroleh dengan segera, asalkan ada uang. Dunia juga menjadi semakin sempit, berbagai peristiwa di ujung-ujung dunia yang berbeda dapat segera diketahui dan direspon. Kini kita hidup bersama dalam sebuah kampung kecil bernama bumi.

Sayangnya hidup serba mudah dan enak seringkali menimbulkan gaya hidup yang justru berkebalikan dengan semangat modernisasi dan ilmu itu sendiri. Belajar yang seharusnya mengarahkan manusia untuk berproses secara kreatif, kini telah banyak ditinggalkan, semua pekerjaan telah banyak yang diserahkan pada mesin-mesin pintar. Makanya tidak heran kalau pada beberapa film diceritakan bagaimana akhirnya manusia dijajah oleh mesin.

Sebenarnya jika kita mau merenung maka kita akan tahu bahwa penjajahan manusia oleh mesin ciptaannya sendiri telah terjadi.

Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat, tanpa ruh kemanusiaan, menunjukkan bahwa sebenarnya kita kembali pada zaman kegelapan ilmiah. Buku-buku dan karya ilmiah terus dihasilkan, namun hampir tidak ada yang membaca dengan sepenuh hati. Kebanyakan sibuk dengan kesenangan dalam teknologi informasi yang semakin mengglobal.

Saya rasa kita benar-benar membutuhkan kembali kelahiran ilmu pengetahuan. Tapi bagaimana mungkin itu terjadi?

Selasa, 23 April 2013

Menjadi Guru yang Membakar Siswa

Semangat adalah api yang membakar mental manusia hingga berkobar pancarkan panas dan cahaya ke sekelilingnya. Dalam semangat terdapat ledakan-ledakan energi membuat manusia yang mengalaminya akan hilang kemalasan dan kelelahan. Dalam semangat juga terdapat lautan bahan bakar tak terbatas, setiap aktivitas akan terlaksana dengan maksimal.

Belajar akan menjadi mudah dan menyenangkan bila dilakukan dengan semangat yang membara. Siswa akan  mengalami momen-momen kreatif dan menyenangkan di dalamnya, hingga berbagai pengetahuan dan ide cemerlang akan lahir dan tumbuh dalam kelas yang penuh dengan api motivasi.

Sayangnya guru yang dapat membakar siswa dengan api semangat pun dapat tertipu. Para siswa yang begitu bergairah dalam aktivitas menyerap informasi, berdiskusi dan praktikum dapat bersikap seperti api yang tersiram hujan lebat. Begitu guru pergi hilang semua gairah dan semangat itu. Berganti dengan kemalasan atau   keengganan ilmiah.

Begitulah kalau motivasi yang diberikan guru lebih bersifat motivasi eksternal. Misalnya guru yang begitu lucu dapat membuat anak menjadi senang dengan pelajarannya. Tapi bukan berarti lantas mereka suka belajar pelajaran tersebut di rumah. Siswa menjadi tergantung dengan lucunya sang guru. Walau motivasi eksternal baik, namun setiap guru harusnya mau untuk meningkatkan menjadi berorientasi motivasi internal diri siswa.

Salah satu teknik untuk menanamkan motivasi internal dalam diri siswa adalah dengan memberi mereka tujuan hidup (Habibi, 2012). Tujuan ini bermacam-macam, mulai dari jangka pendek, menengah, panjang hingga tujuan akhir. Setiap jenis tujuan yang kuat akan melahirkan motivasi dan semangat untuk mencapainya. Untuk mencapai suatu tujuan otomatis kita butuh belajar. Tapi jangan sampai tertipu dengan tujuan semu, yaitu tujuan yang hanya berupa keinginan tanpa suatu komitmen untuk mencapainya. Siapapun bisa membuat tujuan jenis ini, tapi ia tak akan pernah belajar untuk itu.

Kasus untuk dipikirkan:
Apakah menanamkan tujuan jangka pendek dapat memotivasi siswa secara instrinsik? Bukankah tujuan jangka pendek seperti tujuan untuk mendapat hadiah termasuk motivasi eksternal?

Senin, 22 April 2013

Menjadi Guru Sederhana, Berpikirlah seperti Dewey !

Belajar merupakan proses kompleks yang melibatkan banyak sekali aspek dalam kehidupan manusia. Kompleksitas proses inilah yang membuat banyak guru menjadi pusing dan juga khawatir kalau-kalau apa yang dilakukannya ketika mengajar akan gagal mengantarkan siswa menuju perubahan yang lebih baik. Kondisi ini tampaknya sangat banyak dialami oleh guru-guru di Republik ini.

Tidak hanya guru, bahkan menteri pendidikan pun tampaknya selalu berada dalam kekhawatiran dan kecemasan yang berlebihan dalam mengelola kurikulum nasional. Saking takutnya, hingga beliau seringkali melakukan dan mengulangi program-program yang gagal dan memperburuk keadaan seperti Ujian Nasional.

Namun pembahasan kita bukan pada aspek kurikulum atau kinerja pendidikan secara luas. Saat ini kita akan membahas bagaimana menjadi guru sederhana, berpikir sederhana tanpa dibebani rasa takut berlebihan. Namun justru kesederhanaan itu yang akan membawa manfaat dan kemauan belajar bagi siswa.

Apakah anda percaya itu bisa dilakukan?

Salah satu yang dapat saya tawarkan untuk menjadi guru sederhana adalah dengan menggunakan pola berpikir John Dewey dalam melihat dan memperlakukan anak didik. Dewey (dalam Habibi, Pengantar Teori Belajar, 2013) menjelaskan tiga fase manusia dalam belajar yaitu fase main (orientasi aktivitas untuk kesenangan), fase kerja (orientasi aktivitas untuk hasil nyata) dan fase simbol (orientasi aktivita untuk prinsip atau nilai yang dipegang).



Mengetahui tiga fase itu dapat membuat guru secara sederhana menyesuaikan proses mengajarnya dengan karakter para siswanya. Terkadang, keinginan positif yang berlebihan terhadap siswa justru berakibat negatif apabila tidak disesuaikan dengan karakter dasar yang siswa miliki. Dengan demikian menjadi guru sederhana akan membawa anda pada kemudahan dalam proses mengajar ataupun perkembangan jiwa anda sendiri.

Selamat mencoba!

Kasus untuk dipikirkan:
Dapatkan anda merenungkan bagaimana cara termudah untuk menyesuaikan karakter pelajaran kita dengan karakter siswa seperti pada teori Dewey di atas? Mari kita berbagi.

Minggu, 21 April 2013

Berpikir Sehat ala Filsuf

Berpikir adalah pekerjaan atau aktivitas manusia setiap waktu. Pernahkah anda melewatkan suatu waktu dalam keadaan sadar tanpa melakukan aktivitas berpikir? Tentu saja tidak, karena dari mulai yang paling sederhana hingga pada proses yang sangat rumit, berpikir melandasi setiap aktivitas sadar manusia. Kecuali anda tidur, pingsan, terhipnotis atau bahkan gila.

Banyak yang mengatakan bahwa berpikir adalah pekerjaan yang sangat melelahkan, sulit, dan tidak menyenangkan. Itu anggapan yang lahir dari mereka yang tidak memahami bahwa aktivitas-aktivitas mereka yang menyenangkan sekalipun butuh berpikir.



Berpikir tidak lantas membuat seseorang mendapatkan informasi, jawaban atau ide yang jelas, baik dan bermanfaat. Banyak sekali proses berpikir yang justru menghasilkan keruwetan, keburukan atau bahkan rencana-rencana jahat bagi orang lain. Inilah intinya, berpikir haruslah sehat. Jika anda benar-benar ingin mengeksplorasi manfaat dan kemampuan berpikir anda pada level yang maksimal sesuai dengan fitrah kemanusiaan anda maka berpikirlah secara sehat.

Banyak bidang pengetahuan yang berisi aktivitas berpikir, namun diantara semua bidang, filsafat adalah yang paling utama mengajak manusia untuk berpikir secara sehat. Mungkin ada baiknya kita meniru bagaimana cara berpikir para filsuf untuk mendapatkan kemampuan berpikir sehat itu.

Habibi (2011) dalam bukunya Filsafat Sains, Sebuah Pengantar menjelaskan dua cara pokok para filsuf dalam berpikir sehat yaitu :

1. Berpikir deduktif
Dalam cara ini, kesimpulan, informasi atau jawaban yang didapatkan berkaitan dengan suatu kasus yang kita hadapi terlebih dahulu dikonfirmasikan dengan suatu kebenaran umum terkait yang sudah dapat dipastikan kebenarannya (kita terima, dan diterima oleh oleh orang banyak). Konfirmasi tersebut akan menghasilkan kesimpulan yang juga dapat kita yakini kebenarannya.

2. Berpikir Induktif
Dalam cara ini, jawaban dan kesimpulan kita peroleh dengan cara mengumpulkan fakta-fakta sebanyak mungkin mengenai kasus yang dihadapi. Pola informasi dari fakta-fakta tersebut akan menghasilkan jawaban yang teruji karena berdasarkan fakta. Pengumpulan fakta tersebut umumnya kita dapatkan melalui observasi.

Berpikir dengan sehat akan menghasilkan pribadi dan karakter yang juga sehat. Selain itu kompetensi anda dalam suatu bidang akan menjadi benar-benar meningkat dengan pesat. Coba dan buktikan prinsip ini.

Kasus untuk dipikirkan:
Coba anda renungkan berbagai peristiwa yang anda alami dalam rutinitas hidup sehari-hari, Kondisi dan kebiasaan seperti apa yang menghambat seseorang untuk berpikir sehat ala filsuf ini. Nikmati pengalaman berpikir anda dan mari kita berbagi!

Rabu, 17 April 2013

Apakah Teori Belajar Klasik Benar-benar Sudah Usang?

Kalian yang telah mempelajari teori belajar secara utuh tentunya memahami apa yang dimaksud dengan teori belajar klasik. Secara singkat teori-teori belajar yang digolongkan ke dalam fase klasik adalah mereka yang ada sebelum ilmu psikologi berkembang. Teori-teori klasik lebih mendasarkan dirinya pada filsafat atau agama. Sebagai contoh adalah teori Plato mengenai bagaimana belajar seharusnya diarahkan sesuai dengan kodrat bawaan manusia per individu, apakah itu bakat rasional, bakat perang atau bakat produksi. Namun banyak di antara ahli sekarang yang tidak setuju dengan teori tersebut karena hal manusia untuk belajar itu sama dan tidak usah dikekang.



Bagaimana menurut pendapat kalian?

Bertanya tentang Motivasi Belajar

Motivasi adalah sesuatu yang sangat penting untuk setiap aktivitas, termasuk belajar. Motivasi ibaratnya kayu bakar di sebuah tungku yang diperlukan untuk tetap menyala. Oleh karenanya para ahli psikologi banyak concern terhadap satu fenomena kejiwaan ini. Kita ambil contoh bagaimana Martin Ford pada tahun 1992 (dalam Habibi, 2012) mengklassifikasikan berbagai tujuan pada diri manusia, karena menurutnya tujuan itulah yang dapat mempertahankan motivasi paling besar.



Jika anda seorang guru yang harus mempelajari berbagai aspek tentang motivasi, maka kira-kira mana yang akan anda pilih:

  1. belajar teori motivasi secara mendalam dari ilmu psikologi belajar
  2. belajar aspek motivasi dari pengalaman anda sendiri
Tentu setiap pilihan ada latar belakang dan alasan rasionalnya. Bisakan kita berbagi dan saling belajar?

Mari Belajar dari Dunia

Blog ini dibuat untuk mewadahi berbagai pemikiran dan pengalaman saya dalam belajar atau ketika melihat orang lain belajar. Belajar menjadikan kita mengenal dunia di dalam diri kita dan juga dunia di luar sana. Belajar juga merupakan proses yang menghubungkan kita satu sama lain. Belajar memiliki dunia yang tidak akan pernah sesak oleh berapa pun penghuninya.

Selamat datang dan nikmati pengalaman belajar anda selama berada di dalam blog ini. terimakasih atas kunjungan anda.